BAB
II
Logoterapi
Secara Sukses
Viktor membuat teori logoterapi yang didasari
pergulatan hidupnya selama tinggal di kamp. Logoterapi ini memusatkan perhatian
kepada pencarian makna hidup sang pasien. Kata “logos” sendiri berasal dari
bahasa Yunani yang berarti makna.
Teknik yang digunakan dalam logoterapi
adalah niat paroksis (paroxical intention). Teknik ini didasari atas
dua hal, yaitu bahwa perasaan takut bisa menyebabkan ketakutan itu datang.
Sebaliknya, keinginan kuat yang berlebihan justru makin menurunkan potensi
terjadinya keinginan itu.
Maka, rasa takut harus dilawan dengan
penekanan emosi yang bersifat paradoks. Sementara itu, keinginan yang
berlebihan harus dilawan dengan derefleksi, yaitu fokus kepada diri sendiri
yang dialihkan menjadi fokus kepada orang lain. Pasien terlebih dulu disadarkan
bahwa ia memiliki misi dalam hidupnya, yaitu mencari makna hidup.
Upaya manusia untuk mencari makna hidup
bisa menimbulkan ketegangan batin. Namun, ketegangan batin itu justru adalah
syarat yang sangat dibutuhkan agar mental lebih sehat.
Salah satu ketegangan batin kerap muncul
dalam bentuk frustasi eksistensial, sederhananya orang itu merasa hampa.
Fenomena ini mewabah di abad ke-20. Kehampaan ini terutama ditinjau dari rasa
bosan yang bisa memicu depresi, kecanduan, sampai bunuh diri.
Dalam ilmu logoterapi, ada beberapa cara
yang bisa ditempuh untuk menemukan makna hidup yaitu melalui perbuatan yang
dilakukan, melalui orang lain, sehabis mengalami sesuatu, atau dengan menyikapi
penderitaan yang tidak bisa dihindari.
Jika seseorang telah menemukan makna
(hikmah), maka penderitaan tidak lagi terasa seperti penderitaan.
Jika seseorang berhasil menemukan makna
hidupnya, orang itu akan merasa bahagia sekaligus mampu mengatasi segala
penderitaan. Namun, jika gagal orang itu justru akan bersikap menyerah secara
berlebihan. Karenanya, penting untuk melakukan bimbingan logoterapi secara
tepat.
Masyarakat kebanyakan kini terlalu
berorientasi kepada hasil sehingga gampang memuja orang-orang sukses. Atas
dasar ini, manusia kebanyakan telah mengaburkan perbedaan penting antara:
bernilai karena menjunjung tinggi harga diri dengan bernilai karena kegunaan.
Kerancuan antara harga diri dengan
kegunaan disebabkan kurangnya pemahaman masyarakat untuk percaya bahwa segala
hal di dunia memiliki makna.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar